Rezz Media Blog's
Personal Sharing & Education
Cool...!!!
My face. ^_^
Minggu, 26 Juli 2020
MADU MURNI SUKU BADUY
Minggu, 14 Juni 2020
REZZ STORE
Jumat, 12 Juni 2020
Mengenali Jenis Tunanetra
Beberapa pekan lalu, aku sudah memperkenalkan diri melalui Profil Disabilitas.
Melanjutkan artikel tersebut, kali ini aku mau share dan menjawab pertanyaan dari seorang netizen setelah beliau melihat video klipku yang aku share di Facebook.
Link Video: Reza - Elsafan
Beliau bertanya, "Apakah matamu skrg sdh bs liat?
Jadi kamu sampe skrg blm bisa liat?? tapi kamu bagaimana bs kerja dan ngetik wa?? Serta baca??"
Baiklah, disini aku akan menjawab, tapi untuk perihal cara ketik, baca, atau kerja, akan aku bahas di artijel berikutnya seputar Smartphone dan Teknologi dalam Aktivitas dunia Tunanetra.
1. TOTALLY BLIND = BUTA (Buta Total), adalah orang-orang yang mengalami hilangnya/putusnya suatu indra penglihatan. Dalam kondisi ini, syaraf mata dalam keadaan sudah rusak/tidak berfungsi sama aekali.
Faktor/Penyakit: Kecelakaan, Prematur, Glukoma, Retinitis Pigmentosa (parah), Virus Tokso, dan faktor lainnya selain yang sering ditemukan.
2. LOW VISION = 1/2 BUTA (Penglihatan Rendah/Terbatas), adalah orang-orang yang mengalami kebutaan, namun tidak separah Totally Blind. Penderita masih dapat melihat obyek tertentu, namun tidak sesempurna orang awas (yang berpenglihatan normal). Pada kasus ini, penderita mengalami kesulitan dalam membaca tulisan kecil, obyek kecil, bahkan obyek jauh, ada juga yang kesulitan melihat dalam keadaan cahaya redup dan cahaya terlalu terang. Bahkan, akan lambat merespon ketika ada lawan bicaranya menggunakan bahasa tubuh (biasanya ketika ada lambaian tangan tanpa suara, atau posisi orang, penderita tidak akan tahu bahkan akan terlihat kebingungan).
Tapi sayangnya, kategori ini jarang diketahui setiap orang, malahan dianggap "pura-pura buta!" (ini sih pernyataan yang paling sakit 😂), seperti yang pernah dialami oleh penulis sendiri ketika butuh bantuan. Atau, mungkin orang-orang terdekat pernah melihatku menabrak benda dan meraba-raba benda... 😊
Faktor/Penyakit: Kecelakaan, Retinitis Pigmentosa, Glukoma, Katarak, dan faktor lain selain yang sering ditemukan.
2 Korintus 12:9 (TB)
Sekian artikel singkatnya, mudah-mudahan artikel ini bisa bantu menjawab pertanyaan diatas, bahkan menjawab pertanyaan teman-teman yang mungkin sungkan bertanya. 😇🙏
Kalau ada pertanyaan, boleh langsung DM ke Instagramku @rezzmusic_official.
Terimakasih sudah membaca dan sampai jumpa di artikel berikutnya! Tuhan memberkati.
#rezzstory
Kamis, 28 Mei 2020
Life for Blessing
Selasa, 26 Mei 2020
12 Hal Saat Sulit Mengucap Syukur
Rabu, 13 Mei 2020
PROFIL DISABILITAS
Retinitis pigmentosa (RP) merupakan kumpulan penyakit pada retina yang dapat menyebabkan penderitanya mengalami rabun senja serta gangguan penglihatan yang berkembang secara bertahap, hingga akhirnya mengalami kebutaan.
Retina adalah lapisan tipis di belakang mata yang berfungsi untuk menangkap cahaya dan mengubahnya menjadi sinyal untuk dikirim ke otak, sehingga kita dapat melihat.
Pada retina, terdapat dua jenis sel fotoreseptor yang berfungsi untuk menangkap cahaya, yaitu sel batang dan sel kerucut (konus). Sel batang terletak di tepi retina, dan fungsinya adalah untuk membantu melihat dalam kondisi gelap. Sementara sel kerucut berfungsi untuk membantu melihat dalam kondisi terang, dan sebagian besar sel ini terletak di tengah retina.
Pada retinitis pigmentosa, terjadi kematian sel fotoreseptor secara bertahap, terutama sel batang, yang disebabkan oleh kelainan genetik.
Retinitis pigmentosa adalah kondisi yang langka dan diperkirakan hanya terjadi pada 1 dari 3.000–8.000 orang di seluruh dunia. Walaupun langka, retinitis pigmentosa merupakan penyebab utama gangguan pada retina yang dapat diturunkan secara genetik.
Pada kasus autosomal resesif, dibutuhkan sepasang gen yang bermasalah untuk memunculkan retinitis pigmentosa. Itu artinya, seseorang dapat mengalami kondisi ini hanya bila ia mewarisi 2 gen pembawa penyakit retinitis pigmentosa, yaitu satu dari ayah dan satu dari ibu.
Pernikahan sedarah adalah faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya retinitis pigmentosa yang diturunkan secara autosomal resesif.
Penderita retinitis pigmentosa jenis ini biasanya akan kehilangan penglihatan pada bagian tengah lapang pandang di usia 30-an.
GEJALA "RETINITIS PIGMENTOSA"
1. Rabun senja (nyctalopia)
Gejala ini paling sering terjadi pada awal perjalanan penyakit dan menyebabkan penderita sering menabrak atau tersandung benda pada kondisi gelap dan tidak bisa menyetir di malam hari atau saat berkabut.
2. Penyempitan lapang pandang (tunnel vision)
Penyempitan lapang pandang atau gangguan penglihatan pada tepi lapang pandang (tunnel vision). Penderita biasanya mengeluh sering menabrak furnitur atau gagang pintu, atau kesulitan melihat bola saat bermain tenis atau bola basket.
3. Photopsia dan photophobia
Pada photopsia, penderita melihat kilatan, kilauan, atau kedipan cahaya. Sedangkan pada photophobia, penderita mudah merasa silau ketika melihat cahaya.
Kebanyakan keluhan akibat retinitis pigmentosa muncul di usia 10–40 tahun. Gejala-gejala tersebut bisa memberat secara bertahap dalam hitungan tahun, bisa juga memberat dengan cepat dalam jangka waktu yang pendek.
PENGOBATAN "RETINITIS PIGMENTOSA"
Belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan retinitis pigmentosa atau mengembalikan penglihatan penderita yang hilang akibat kondisi ini. Perubahan pola makan dan pemberian suplemen vitamin Apalmitat, DHA, lutein, dan zeaxanthin mungkin dapat memperlambat perkembangan penyakit ini.
Penderita retinitis pigmentosa disarankan untuk menggunakan kacamata hitam ketika beraktivitas di luar rumah pada siang hari, agar matanya terlindungi dari paparan cahaya matahari. Hal ini karena paparan cahaya yang berlebihan dapat mempercepat penurunan daya penglihatan.
(Diringkas dari: alodokter.com)

